? ??????????????Playboy? ????? ?????? ???Rating: 3.9 (198 Ratings)??12 Grabs Today. 9517 Total Grabs. ????
??Get the Code?? ?? ?????Truth In The Skies? ????? ?????? ???Rating: 4.0 (1 Rating)??11 Grabs Today. 61 Total Grabs. ??????Get the Code?? ?? ???????????? ????Easy Install Instructions:???1. Copy CLICK HERE FOR BLOGGER TEMPLATES AND MYSPACE LAYOUTS ?

Friday, August 21, 2009

Mentari tak selalunya bersinar
Adakalanya ia ditutupi mendung
Apapun yang terjadi ia tetap mentari
Memberikan sinar untuk semua

Di gelora lautan tersimpan butiran mutiara
Di heningan sungai hidupnya pelbagai buaya
Usah dibimbang bencana kehidupan
Ia memperteguhkan jiwa menguatkan iman

Manusia tidak mempu mengatasi takdir
Namun ia diberi ruangan untuk berfikir
Apa yang sudah terjadi usah difikir
Apa yang akan datang harus berwaspada

Hasrat yang tidak tercapai menghibakan hati
Gelora rasa sukar dipadam
Kita hanya berusaha sesungguh hati
Namun Dia juga yang menentukan

Kita tidak mengetahui apa yang akan terjadi
Mungkinkah itu akan terjadi...

Catatan al-Merbawi 2004

Thursday, August 20, 2009

Salam al-mubarak

Assalamualaikum wrt...

Dikejauhan ini, diriku yang amat kerdil ini...memohon maaf zahir dan bathin andai terdapat kesilapan serta kekhilafan yang dilakukan samada serta secara sedar maupun tidak..

terlalu banyak yang ingin diungkapkan namun cukup sekadar ini..biarlah ia menjadi rahsia didalam hati ku dilubuk yang paling mendalam..hanya DIA yang lebih mengetahui hakikat apa yang telah terjadi ini..

salam Ramadhan almubarak..selamat datang Ramadhan yang penuh mulia..Ramadhan karim..moga2 dengan kedatangan bulan mulia ini..dapat mendekatkan lagi diri kita pada NYA..muga2 dengan asbab kedatangannya menjadi kan kita hambaNYA yang kembali (INABAH) dalam erti kata yang sebenar..

Thursday, July 9, 2009

Rasa Hati….

Wahai anak-anakku engkau tak tahu
Apa yang ada dalam hatiku
Biarlah aku beritahu
Untuk dikongsi bersama dengan kamu

Jiwaku sakit lebih dari fizikalku
Oleh itu fizikalku sakit
Aku tidak ambil peduli
Kecuali tak mampu menahan sakit itu

Apakah anak-anakku ingin tahu
Jiwaku sakit lebih dari fizikalku
Elok aku beritahu
Supaya kamu tahu perasaanku

Aku rasa dosa-dosaku
Sentiasa dihadapan mataku
Susah hati hendak melupakannya
Menjadikan perasaanku keluh kesah selalu

Lebih-lebih lagi kalau aku
Sedar terbuat dosa lagi
Lagilah jiwaku menderita
Lagilah jiwaku menderita

Bahkan aku teringat selalu
Dosa-dosaku diwaktu mudaku
Penyakit jiwaku menyerang ke dalam hatiku
Lantas ku ulangi ku ulangi taubatku

Maklumlah dizaman mudaku dahulu
Tiada siapa yang memimpinku
Macam aku memimpin diri kamu
Macam aku memimpin diri kamu

Diwaktu itu tiada jemaah Islam
Yang boleh mendidikku wahai anak-anakku
Diwaktu itu tiada jemaah Islam
Yang boleh mendidikku wahai anak-anakku

Wahai anak-anakku engkau tak tahu
Apa yang ada dalam hatiku
Biarlah aku beritahu
Untuk dikongsi bersama dengan kamu (2X)


12 Ramadhan 1430H (mawaddah)

Sunday, March 15, 2009

INABAH

Inabah
Inabah adalah istilah yang berasal dari Bahasa Arab anaba-yunibu (mengembalikan) sehingga inabah berarti pengembalian atau pemulihan, maksudnya proses kembalinya seseorang dari jalan yang menjauhi Allah ke jalan yang mendekat ke Allah. Istilah ini digunakan pula dalam Al-Qur’an yakni dalam Luqman surat ke-31 ayat ke-15, Surat ke-42, Al-Syura ayat ke-10; dan pada surat yang lainnya.Abah Anom menggunakan nama inabah menjadi metode bagi program rehabilitasi pecandu narkotika, remaja-remaja nakal, dan orang-orang yang mengalami gangguan kejiwaan. Konsep perawatan korban penyalahgunaan obat serta kenakalan remaja adalah mengembalikan orang dari perilaku yang selalu menentang kehendak Allah atau maksiat, kepada perilaku yang sesuai dengan kehendak Allah atau taat.Dari sudut pandang tasawuf orang yang sedang mabuk, yang jiwanya sedang goncang dan terganggu, sehingga diperlukan metode pemulihan (inabah). Metode inabah baik secara teoretis maupun praktis didasarkan pada Al-Qur’an, hadits dan ijtihad para ulama, Metode ini mencakup :
Mandi
Lemahnya kesadaran anak bina akibat mabuk, dapat dipulihkan dengan mandi dan wudlu. Mandi dan wudlu akan mensucikan tubuh dan jiwa sehingga siap untuk 'kembali' menghadap Allah Yang Maha Suci. Makna simbolik dari wudlu adalah: mencuci muka, mensucikan bagian tubuh yang mengekspresikan jiwa; mencuci lengan, mensucikan perbuatan; membasuh kepala, mensucikan otak yang mengendalikan seluruh aktifitas tubuh; membasuh kaki, dan mensucikan setiap langkah perbuatan dalam hidup.

Sholat
Anak bina yang telah di bersihkan atau disucikan melalui proses mandi dan wudlu, akan dituntun untuk melaksanakan sholat fardhu dan sunnah sesuai dengan metode inabah. Tuntunan pelaksanaan sholat fardhu dan sunnah sesuai dengan ajaran islam dan kurikulum ibadah yang dibuat oleh Abah Anom.

Talqin Dzikir
Anak bina yang telah pulih kesadarannya diajarkan dzikir melalui talqîn dzikr. Talqin dzikir adalah pembelajaran dzikir pada qalbu. Dzikir tidak cukup diajarkan dengan mulut untuk ditirukan dengan mulut pula, melainkan harus dipancarkan dari qalbu untuk dihunjamkan ke dalam qalbu yang di talqin. Yang dapat melakukan talqin dzikir hanyalah orang-orang yang qalbunya sehat (bersih dari syirik) dan kuat (berisi cahaya ilahi).

Pembinaan
Anak bina ditempatkan pada pondok inabah guna mengikuti program Inabah sepanjang 24 jam. Kurikulum pembinaan ditetapkan oleh Abah Anom mencakup mandi dan wudlu, shalat dan dzikir, serta ibadah lainnya.

Pondok Inabah II untuk Putri

Disamping kegiatan-kegiatan tersebut diatas, juga diberikan kegiatan tambahan berupa : Pelajaran baca Al-Qur’an, berdoa, tata cara ibadah, ceramah keagamaan dan olah raga. Setiap anak bina di evaluasi untuk mengetahui sejauhmana perkembangan kesehatan jasmani dan rohaninya. Evaluasi diberikan dalam bentuk wawancara atau penyuluhan oleh ustadz atau oleh para pembina inabah yang bersangkutan.Atas keberhasilan metoda Inabah tersebut, KH.A Shohibulwafa Tajul Arifin mendapat penghargaan “Distinguished Service Awards” dari IFNGO on Drug Abuse, dan juga penghargaan dari Pemerintah Republik Indonesia atas jasa-jasanya di bidang rehabilitasi korban Narkotika dan Kenakalan remaja.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh DR. Juhaya S. Praja, dalam tahun 1981-1989, 93,1% dari 5.845 anak bina yang mengikuti program inabah dapat dikembalikan ke keadaan semula dan dapat kembali hidup di masyarakat dengan normal.

Thursday, August 21, 2008

MENCARI REDHA ALLAH DALAM KARIER (PEKERJAAN)

Semua muslimin wajib mempercayai selepas mati dia akan dihidup kembali – sejahtera atau bencana terpulang kepada dunia yang sebentar lalu। Sebahagian besar tempoh masa di dunia itu 4/5 adalah berusaha samada makan gaji atau usaha sendiri। Persoalan – jika demikian habis masa yang sebahagian besarnya menanggung hidup , adakah redha Allah dapat kita perolehi? Rasulullah saw mengajarkan , jadikanlah pekerjaan (karier) sebagai satu ibadah dengan merasakan ianya satu amanah yang akan dipersoal oleh Allah di hari pengadilan। Amanah yang apabila Allah terima , di suatu harinya menjadi pertolongan Allah dalam kehidupan dunia. Bila tiba di alam Baqa’ amanah itu menjadi pakaian ketika makhluq berbogelan , menjadi teduhan dingin di saat makhluq terbakar hangus , menjadi kenderaan pantas sampai di hadapan hadhirat Ilahi Rabbil ‘Izzati. Matlamat – niat – qasad adalah dengan usaha atau pekerjaan itu menjadi jambatan penyambung kepada akhirat kelak. Imam asy-Syaikh Ibnu Qudamah (Minhaj al-Qasidin) membahagikan jenis orang bekerja ataupun berusaha kepada tiga martabat (peringkat / jenis ) beserta ciri-ciri penyakit atau ciri sihat yang ada pada tiap satunya. Martabat al-Ghoflah – Bekerja atau berusaha dalam keadaan lalai tanpa matlamat hidup yang nanti akan menyusahkannya menjadi hamba Allah. Sebaliknya tanpa disedari dia seumpama binatang ternak (al-An’am) yang cukup kenyang dan tidak dahaga , diperah titik peluh dengan ganjaran yang menjauhkannya dari Allah. Arah usahanya ditentukan makhluq hingga menghasil suatu peribadi yang terumbang ambing dalam haqiqat hidup Sahabatnya hanya insan-insan yang gagal dan kecewa dalam perjalanan hidup , mereka di bawah tempurung kejahilan , keliru , mudah putus asa merajuk , diperkotak katik orang. Membiarkan dirinya ditentukan takdir semata-mata hingga wujud syirik dalam dirinya dengan menyalahkan Allah. Martabat al-Syahwat – Tanpa sedar atau mengetahui golongan yang bekerja atau berusaha pada peringkat ini - dalam waktu yang sama membelakangi perintah dan larangan Allah, golongan ini bukan lagi hamba Allah dia menjadi hamba kepada hawa nafsu yang menguasai kehendak dunia dan nafsu hingga tiada sesuatu dirasakannya boleh menghalang tiap kemahuan syahwatnya. Ketika itu wang ringgit menjadi Tuhan yang dipuja puji , serakah duniawi menjadi pendaming dan arah panduan usahanya setiap masa. Agama dirasa pengikat kemahuannya perlu diguna ketika perlu sahaja. Dia menjadi hamba zuriat-isteri/suami yang tidak dididik atas landasan Allah.Akhlaq ketika itu penuh mazmumah (keji lagi hina) bercampuran sifat zalim menindas , menipu , berpura-pura , takabbur kata-kata dan perbuatannya , selalu khurafat dan tidak malu berbuat syirik kepada Allah. Dilanggar segala larangan Nya , haram menjadi halal dan sebaliknya juga panjang angan-angan kononnya esok hari dia akan sihat , dia masih hebat , dia masih kebal dan sebagainya. Ibu ayah dan guru tendang tepi, sampai kemuncaknya golongan ini mula bersifat keakuan (merasa semua miliknya dalam perintahnya) seolah-olah dialah Tuhan.Rakannya yang sebagai penasihat terdiri mereka yang sealiran (sahabat subahat) yang gemar berlebihan makan minum , leka mainan dunia , bergaul tanpa batasan dan benci unsur nasihat menasihati , benci insan jujur yang ingin menyelamatkannya. Martabat al-Wara’ – pada tahap ini manusia telah keluar dari tempurung atau kepompong jahil dan derhaka. Dia naik kepada suatu usaha atau pekerjaan yang murni untuk diri dan organisasinya. Allah memandang usahanya sebagai suatu pandangan rahmat dan kasih sayang kerana ketika itu dunia yang mengikutinya. Wang ringgit , pangkat dan kebendaan bukan tujuan utama tetapi berganti berharap mendapatkan jiwa yang tenang dan rezeki yang cukup, anak-anak yang mendamaikan dalam lingkungan sempadan Tuhan. Sahabatnya adalah orang mukmin bertaqwa dan rumahnya adalah masjid tiada syubhat dalam pendapatan dan amanah – masukilah keredhaan Allah dalam tenang lagi bahagia.
Sedutan:
Imam asy-Syaikh Ibnu Qudamah (Minhaj al-Qasidin) membahagikan jenis orang bekerja ataupun berusaha kepada tiga martabat (peringkat / jenis ) beserta ciri-ciri penyakit atau ciri sihat yang ada pada tiap satunya
.

Tuesday, July 15, 2008

PENDIDIKAN DARI AKARNYA

Pendidikan itu selalu dikaitkan dengan istilah arabnya tarbiyyah. Ada juga kitab yang namanya Tarbiyyatul aulad atau pendidikan anak-anak, Ayyuhal Walad dan banyak lagi kitab-kitab serta istilah-istilah yang menggambarkan serta menghuraikan apakah itu pendidikan sebenarnya.

Ada yang berpandangan pendidikan itu harus bermula dari pakaian; baju yang dipilih harus menutup kesemua aurat yang dituntut oleh agama, jangan dedah sana-sini nanti masuk neraka. Ada pula mendefinasikan pendidikan itu seharusnya bermula dengan tingkah-laku yang baik, berbudi bahasa, sopan- santun dan apa saja yang menggambarkan akhlak yang elok pada kacamata agama maupun budaya. Ada jua mengatakan pendidikan itu harus keras, mesti tegas dan cepat dalam melakukan perubahan. Hatta andai berdepan dengan wanita yang tidak bertudung maupun yang bermini skirt harus disuruh segera menutupi auratnya agar tidak terus-terusan melakukan dosa.

Namun tanpa kita sedari semua tindakan yang dinyatakan diatas tidak benar- benar terkesan dalam memungkinkan perubahan yang dilakukan itu terus konsisten, bahkan seringkali yang kita ketemui perubahan yang hanya berlaku hanya seketika sahaja, bahkan ada juga yang bermusim dan yang paling menyedihkan menjadi bahan fitnah ke atas agama.

Yang sering dan hampir-hampir dilupai oleh kebanyakan manusia zaman ini adalah sunnah Nabi dan sunnah para solihin, auliya’ serta ulama yang meninggalkan banyak contoh teladan yang bermanfaat serta berharga sekali.

Bagaimana yang dilakukan oleh Pengersa Abah Anom (panggilan mesra seorang guru mursyid yang masih ada sehingga kini) tetap melayan serta meraikan sesiapa pun jua yang hadir dalam majlis- majlis zikrullah samada khataman mingguan, manaqib bulanan mahupun apa jua majlis yang melibatkan anggota ikhwan. Beliau tidak pernah memandang sinis jauh sekali memaki hamun bahkan disambut mesra kedatangan mereka kerna mengetahui hakikat jauhnya manusia itu dari Allah kerna kejahilan manusia itu sendiri dan termakan dengan bujukan nafsu yang senantiasa mengajak manusia kearah keburukan dan kekacauan.

Pernah yang datang dalam majlis zikirnya seorang pelacur yang sudah pasti pakaiannya tidak menutup aurat, berkain singkat dan menjolok mata, tetapi tidak terus disuruh memakai yang menutup aurat, kerna memahami yang perlu dicuci terlebih dahulu adalah jiwa yang kotor, yang perlu diisi hati itu adalah zikrullah dan dilatari akal itu dengan kefahaman yang mendalam dengan kalimah “laila ha illah”. Kemudian barulah akan tercerna semua itu pada tingkah-laku dan tindakan.

Sunnah ini jelas sudah ditunjukkan oleh Rasulullah saw sendiri ketika melakukan dakwah. Yang dimulai terlebih dahulu adalah proses pembersihan hati dari kefahaman karut- marut nenek moyang jahiliyyah terlebih dahulu kemudian barulah diajar syariat ketika setelah berlaku penghijrahan ke kota Madinah al-Munawwarah.

Perubahan yang dilakukan dengan kefahaman yang mendalam, dilakukan dengan didikan yang penuh kasih sayang serta disulami dengan rasa mahabbah kepada Al-Khaliq pasti membuahkan hasil yang baik.

Jelas disini pendidikan itu harus bemula dari akarnya iaitu bertunjangkan akidah yang benar iaitu Islam agama suci, berteraskan ilmunya iaitu Tauhid serta diserikan dengan aklahqul karimah puncanya Ihsan.

KETIKA ZUHUD BERPUSARA ZIKRULLAH

Bukan hal asing bagi ummat Islam kini dengan istilah Zuhud. Istilah Zuhud selalu diidentitikan dengan dunia sufi dan kemiskinan. Untuk menambah cakrawala pemikiran, ada baiknya kita melihat bagaimana ulama’ menyingkapi istilah Zuhud ini.

Zuhud adalah kalimat dalam bahasa Arab yang diambil dari kata Zahuda, Yazhudu, Zuhdan (sulasi mujarrad). Zuhdan atau Zuhud sighatnya masdar taukid menunjukkan kepada sikap atau keadaan seseorang. Zuhud bererti sikap atau keadaan seseorang yang tidak mencintai dunia, sikap ini tidak bererti melarang manusia untuk kaya tetapi seberapapun kekayaan yang dimilikinya diperuntukkan untuk dapat mendekatkan diri kepada Allah swt. Sebagaimana Allah swt berfirman, ”Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan kebahagiaanmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.” al-Qasas:77.

Rasulullah saw seorang manusia yang jujur dan berjaya beristerikan Siti Khadijah yang dikurniai banyak harta. Ketika api perjuangan memuncak, tidak sedikit pun harta tersisa, beliau ikhlaskan demi perjuangan menegakkan kebenaran. Kezuhudan Rasulullah saw dan isterinya menjadikan kecintaannya kepada Allah swt mampu menjadikan dunia sebagai media taqarrub kepadaNya. Ketika kelaparan melanda ummat Islam sepulang perang Uhud, harapan untuk mendapatkan makanan nyaris punah. Datanglah Sayyidina Uthman bin Affan r.a. membawa seratus unta yang kemudian diberikan untuk keperluan ummat yang tengah dilanda krisis.

Sayyidina Ali bin Abi Tholib memandang Zuhud adalah perbuatan yang dapat mendekatkan diri kepada Allah swt. Zuhud di dunia adalah memendekkan angan-angan, bersyukur ketika mendapat nikmat dan menjauhi segala yang haram. Sikap Zuhud sebagaimana dimaksud beliau, sejalan dengan apa yang difirmankan Allah dalam surah al-Hadid: 23, maksudnya, ”(Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berdukacita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu tidak terlalu gembira terhadap apa yang diberikanNya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.”

Zuhud bererti seimbang antara lahir dan bathin. Yahya bin Muadz r.a. menuturkan, seseorang tidak akan sampai pada hakikat Zuhud kecuali dengan tida hal. Pertama, beramal tanpa mengaharapkan ganjaran, kedua berucap tanpa dikendalikan nafsu, ketiga kemuliaan tanpa kekuasaan.

Syekh Junaidi al-Bagdadi r.a. beliau menjelaskan bahawa Zuhud adalah melepaskan tangan dari kecintaan terhadap harta benda, melepaskan hati dari kesenangan nafsu dan menjauhkan hati dari pengaruh yang negatif. Orang yang mencintai harta benda tanpa memiliki sikap Zuhud maka dapat dipastikan menjadikan dunia sebagai media kesenangan, padahal seharusnya harta dunia dijadikan alat yang menfasitasi antara dirinya dengan Tuhannya. Demikian dikatakan Syekh Abdul Qadir q.s. yang Zuhud dan senantiasa menyediakan hartanya untuk kepentingan orang banyak, beliau sangat kaya tetapi ketika orang lain membutuhkan harta bendanya, baju yang dipakainya pun diberikannya.

Imam Naqsyabandi r.a. menuturkan, “Makanlah kamu dengan yang enak-enak, berpakaianlah dengan yang bagus-bagus, tetapi ingat beribadahlah dengan enak dan bagus pula.”

Kemiskinan seseorang tidak dapat menjamin dapat dekat dengan Allah, sebaliknya orang kaya tidak dipastikan dibenci Allah. Kaya atau miskin bukan ukuran, hiasilah dengan Zuhud pasti dekat dan selamat dari azab Allah swt. Di dalam kitab Iqodul Himam, Imam Ibnu Athoillah r.a. menuturkan, Zuhud di dunia adalah zikir dalam hati dengan dawam (istiqamah) walau sedikit zikirnya dengan lisan, seseorang yang hatinya selalu ingat Allah (melakukan zikrullah) sanantiasa merasa diawasi Allah swt, kerananya (zikrullah) membuat sadar siapa yang memberi harta dan untuk apa harta harus digunakan, siapapun dan apapun jua pangkat yang disandangnya akan selamat ketika Zuhud berpusara zikrullah..

(Athoez/Rbth)